Dua tahun lalu, perdebatan soal “boleh nggak pakai piyama ke kantor” masih dianggap lelucon. Tapi di 2026, brand-brand fashion global justru berlomba-lomba merilis lini workwear berbahan modal dan fleece yang terasa seperti tidur sambil rapat. Sesuatu yang besar sedang bergeser.
Data dari Global Fashion Wellness Index 2026 menunjukkan bahwa penjualan pakaian yang dikategorikan sebagai comfort dressing meningkat 47% dibandingkan tiga tahun lalu. Bukan sekadar tren musiman — ini respons langsung terhadap meningkatnya kesadaran masyarakat global tentang kesehatan mental. Pakaian bukan lagi soal terlihat bagus. Pakaian kini soal merasa baik.
Menariknya, pergerakan ini tidak dimulai dari runway Paris atau Milan. Ia dimulai dari percakapan di komunitas online, dari terapis yang menyarankan pasiennya untuk “berpakaian dalam cara yang tidak menciptakan tekanan tambahan”, dan dari jutaan orang yang diam-diam menyadari bahwa celana ketat berbahan keras membuat hari mereka terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Ketika Pakaian Jadi Alat Terapi Diri
Psikologi berpakaian bukan konsep baru, tapi baru benar-benar masuk ke percakapan arus utama di pertengahan 2020-an. Para peneliti menyebutnya enclothed cognition — gagasan bahwa apa yang kita kenakan secara langsung mempengaruhi kondisi psikologis kita. Nah, dari sini lahirlah gelombang besar comfort dressing.
Tidak sedikit yang merasakan perbedaan nyata ketika mengganti pakaian kerja formal dengan setelan linen longgar atau knit set yang breathable. Produktivitas tidak turun — justru sebaliknya. Beberapa survei internal perusahaan teknologi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melaporkan bahwa kebijakan relaxed dress code berkorelasi dengan turunnya angka burnout karyawan.
Bahan Jadi Raja, Bukan Merek
Di 2026, konsumen fashion semakin teredukasi soal material. Mereka tidak lagi sekadar membeli nama. Mereka membaca label, mencari tahu apakah kain tersebut breathable, apakah jahitannya tidak menekan pinggang, apakah bisa dicuci tanpa ritual khusus yang melelahkan.
Bahan-bahan seperti tencel, linen campuran, bamboo jersey, dan french terry mendominasi pencarian di platform e-commerce Indonesia. Bahkan brand lokal seperti Buttonscarves, Patagonia Indonesia, hingga pemain baru yang lahir post-pandemi ramai-ramai merespons permintaan ini dengan koleksi yang mengutamakan softness dan ease of movement.
Siluet yang Memberi Napas
Kalau dulu tubuh harus menyesuaikan pakaian, sekarang filosofinya terbalik. Comfort dressing merayakan siluet longgar, potongan oversized yang tetap rapi, dan konstruksi tanpa zipper menyiksa atau kancing yang susah dijangkau. Coba bayangkan: berapa menit dalam hidup Anda terbuang hanya untuk bergulat dengan kancing di bagian punggung baju?
Detail praktis seperti elasticated waistband, tali adjustable, dan bahan yang tidak perlu disetrika menjadi selling point utama. Ini bukan malas — ini desain yang menghormati waktu dan energi penggunanya.
Gerakan Ini Mengubah Industri dari Dalam
Brand-brand besar tidak bisa lagi mengabaikan sinyal ini. ZARA merilis lini “Soft Collection” yang habis terjual dalam tiga hari di kuartal pertama 2026. H&M mengakuisisi brand comfort-wear Skandinavia senilai $200 juta. Di Indonesia, pasar athleisure dan soft dressing tumbuh hampir dua kali lipat sejak 2024.
Jadi, ini bukan lagi sub-niche. Ini sudah menjadi pusat gravitasi industri fashion.
Brand Lokal yang Memimpin Percakapan
Yang membanggakan, brand lokal Indonesia tidak hanya ikut arus — beberapa justru menjadi referensi. Desainer muda dari Bandung dan Jakarta mulai membangun identitas penuh di sekitar gentle fashion dan wearable wellness. Mereka mengkombinasikan estetika Nusantara dengan pendekatan slow fashion yang mengedepankan kenyamanan fisik dan mental pemakainya.
Komunitas di media sosial seperti tagar `#ComfortDressingID` sudah mengumpulkan ratusan ribu konten dari perempuan dan laki-laki yang berbagi outfit of the day dengan narasi tentang bagaimana pilihan pakaian mereka mendukung kondisi mental hari itu.
Kritik dan Tantangan yang Tetap Ada
Tentu tidak semua setuju. Sebagian kalangan fashion tradisional menilai comfort dressing sebagai kemunduran estetika. Ada juga kritik yang lebih substansial: apakah industri ini hanya mengemas ulang komoditas murah dengan narasi kesehatan mental untuk menjual lebih mahal?
Kekhawatiran ini valid. Banyak orang mengalami dilema ketika menemukan produk berlabel “wellness fashion” yang harganya tidak wellness sama sekali. Di sinilah konsumen perlu kritis — kenyamanan sejati tidak harus datang dengan harga premium.
Kesimpulan
Comfort dressing di 2026 bukan sekadar pilihan estetika, melainkan pernyataan sikap tentang bagaimana kita mau memperlakukan diri sendiri. Ketika kesehatan mental semakin diakui sebagai prioritas — bukan kemewahan — pakaian pun ikut bertransformasi menjadi salah satu bentuk perawatan diri yang paling aksesibel.
Yang lebih menarik lagi, gerakan ini membuka percakapan lebih luas soal hubungan antara tubuh, pakaian, dan kesejahteraan psikologis. Mungkin inilah saat yang tepat untuk membuka lemari pakaian, dan bertanya jujur: apakah yang ada di sana mendukung hari-hari Anda, atau justru menambah beban?
FAQ
Apakah comfort dressing cocok untuk lingkungan kerja formal?
Sangat bisa, dengan pendekatan yang tepat. Pilih material premium seperti linen structured atau knit dengan siluet yang tetap rapi — kenyamanan dan profesionalisme bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Bagaimana membedakan comfort dressing yang genuine dengan yang sekadar marketing?
Fokus pada material dan konstruksi, bukan narasi brandnya. Periksa apakah bahannya benar-benar breathable, apakah jahitannya tidak menekan, dan apakah desainnya memudahkan pergerakan — bukan sekadar label “wellness” yang ditempel di kemasan.
Apakah tren ini akan bertahan atau hanya sesaat?
Berdasarkan data pertumbuhan dan pergeseran nilai konsumen yang terjadi secara global, tren ini memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dibanding tren fashion biasa. Selama kesadaran kesehatan mental terus meningkat, comfort dressing kemungkinan besar akan terus berkembang dan berevolusi.